Memelihara Ilmu dan Mengaplikasikannya Agar Bermanfaat


"Sampai kapan nih ngaduknya?"
"Sampai daun pre-nya layu. Kecilin aja apinya."
"Oh, oke."

Secuil obrolan antara saya dan seorang teman di sebuah dapur, beberapa tahun yang lalu. Masih saya ingat dengan detail hingga hari ini.

memelihara ilmu dan mengaplikasikannya

Obrolan pagi itu terjadi di dapur sebuah panti asuhan putri, tempat saya dan seorang teman kuliah mengabdi di sana. Membantu mendampingi adik-adik yatim, yatim piatu, atau yang punya kondisi-kondisi kurang menyenangkan lainnya. Mendampingi mereka belajar, beribadah, hingga untuk urusan dapur.

Pagi itu kami memasak soto ayam. Teman saya yang lebih dahulu mengabdi di panti, mengajari saya bagaimana kebiasaan memasak soto di sana. Dia sebelumnya diajari juga oleh ibu pengasuh panti. Sambil mengobrol segala hal, kami berdua memasak dengan enjoy ditemani oleh tiga adik panti yang kebagian piket memasak. Sesekali ada juga adik lain yang masuk ke dapur, sekadar menyapa atau numpang berdendang lalu mengerjakan aktivitas lain. Hihihi.

Beberapa saat kemudian soto ayam dan printilannya sudah siap di meja makan. Tempe goreng dan kerupuk tak lupa ikut tersaji. Adik-adik menyantapnya dengan lahap sebelum mereka berangkat sekolah. Alhamdulillah, kami senang menyaksikannya. Soto ayam yang kami masak laku keras. Hahaha. Terang saja, karena hanya itu menu yang tersaji di meja makan 😅.

Begitulah, memasak di dapur bukanlah pekerjaan yang berat buat saya dan teman saya. Karena kami melakukannya dengan gembira. Selain bumbu soto ayam dan bagaimana cara memasaknya, saya juga masih ingat beberapa bumbu dan cara memasak masakan lain. Seperti gado-gado, rawon, dadar mie, dan lain-lain.


Tentang Bekal Ilmu yang Tak Akan Pernah Habis...

Secuil. Ya, hanya secuil cuplikan scene dalam perjalanan hidup saya di atas, saya ingat hingga detik ini. Karena dari scene itu, saya membawa ilmunya hingga hari ini (OMG kenapa saya jadi terharu menuliskannya 🥺 ). Ilmu tentang memasak soto ayam.

Tentu saja, selama lebih dari tiga puluh tahun hidup di dunia ini, ada banyak sekali scene-scene kehidupan yang saya alami. Sebagian saya ingat, sebagiannya lagi mungkin tidak. Tentang didikan bapak dan ibu ketika saya masih kecil, tentang bagaimana bapak ibu guru mengajar di kelas, tentang kisah-kisah dalam berteman, dan berjuta scene lainnya.

memelihara dan merawat ilmu
Sumber gambar: pexels.com

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.”
(QS. Ali Imran: 110).

Masing-masing scene hidup memberikan ilmu kehidupan. Dan itu semua merupakan bekal ilmu yang tak akan pernah habis. Ibarat kita sedang melakukan perjalanan, setiap kejadian dalam hidup merupakan bekal untuk langkah-langkah selanjutnya. Begitu juga ilmu yang kita timba di lingkungan-lingkungan pendidikan formal, merupakan bekal untuk masa depan yang tak akan pernah habis.

Lalu, bagaimana agar ilmu-ilmu itu menjadi bekal yang tak akan pernah habis? Sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan? Menurut saya kita harus memelihara dan mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu ada beberapa hal yang harus kita lakukan, diantaranya sebagai berikut:

❤️ Amalkan secara terus-menerus.

Ilmu yang diamalkan tak akan hilang atau habis. Seperti ilmu membuat soto ayam yang saya dapatkan di panti, tak akan hilang karena saya sering mempraktikkannya hingga kini.

❤️ Lakukan untuk beribadah.

Jika niat kita melakukan suatu amalan ilmu karena untuk beribadah kepada Allah, karena untuk kebaikan, insyaa Allah Dia akan menjaga ilmu itu untuk kita.

❤️ Bagikan untuk orang lain.

Dengan berbagi ilmu kita kepada orang lain, akan lebih banyak yang menerima dan mengamalkan ilmu tersebut. Sehingga tak akan habis dan justru akan lebih bermanfaat. Keutamaan membagikan ilmu kepada orang lain telah disampaikan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wassallam:
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

❤️ Kembangkan jika mampu.

Dengan mengembangkan ilmu, akan lebih banyak atau bertambah lagi ilmu lain yang didapat dan diamalkan. Sehingga semakin terpelihara ilmu tersebut.

❤️ Ingat si pemberi ilmu.

Ingatlah si pemberi ilmu, agar bisa lebih menghargai dan memelihara ilmu yang telah kita dapatkan.


Ilmu tak melulu kita dapatkan di bangku sekolah. Seringkali kita dapatkan pula secara tak sengaja di manapun, kapanpun. Namun semua ilmu itu hendaknya kita pelihara dan kita aplikasikan dalam kehidupan selanjutnya, agar lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain 😊.


Diah Kusumastuti
Saya ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Blog saya berisi bermacam tulisan terkait family, parenting, pendidikan, traveling, dll. Email: d3kusumastuti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter